
Tanggal 17 April 2019 bagi sebagian orang merupakan hari yang sangat bersejarah dan menegangkan bagi para Calon Anggota Legislatif (Caleg). Seluruh upaya yang telah dilakukan pada masa kampanye untuk mengambil hati masyarakat ditentukan pada tanggal tersebut.
Bagi caleg yang berhasil mendapatkan kursi mungkin sejarah yang tercatat adalah momentum tidak terlupakan dalam hidupnya. Tapi bagi Caleg yang gagal?
Sangat memprihatinkan memang, apalagi segenap kekuatan mulai dari tenaga, pikiran, bahkan uang sudah dikeluarkan demi mengambil hati para “pemilik suara”, tetapi kenyataannya tetap tidak menjamin mereka untuk mendapatkan kursi Anggota Legislatif.
Caleg yang terpilih akan dengan bangga membagikan kiat-kiat kesuksesannya dalam “mendulang” dukungan dari masyarakat. Tetapi caleg yang gagal akan mengumbar kisah “pengkhianatan” tim pemenangan dan pendukungnya.
Itulah realita dunia politik yang sesungguhnya. Jika sukses, romantisme perjuangan akan menjadi bagian dari setiap cerita. Tetapi topik kebencian dan kedengkian lah yang akan diumbar oleh para caleg yang gagal.
Berkaca dari fenomena tersebut, seharusnya para caleg gagal melakukan evaluasi terhadap penyebab-penyebab kegagalannya, bukan terus mencari-cari siapa yang salah dan menyalahkan keadaan sehingga akan terus tertekan dalam keadaan depresi yang “akut” atau bahkan mengarah ke penyakit “gangguan jiwa”.
Mari kita kupas bersama “curhatan” para caleg gagal dan mencari faktor-faktor penyebab kegagalan tersebut, sehingga dapat menjadi pelajaran berharga dan “manuver” cerdas bagi Anda untuk memenangkan Pemilihan Legislatif 2024 nanti.
Fakta mengatakan bahwa, Logistik adalah pemeran utama dalam “panggung politik” yang harus menjadi fokus utama. Jangan sampai kehabisan logistik sehingga “skenario” dalam “drama perperangan” terhenti sebelum berakhir.
Rata-rata caleg yang berhasil selalu mengungkapkan peranan logistik sangat penting dalam proses pemenangan. Bahkan jumlah dana operasional yang dikeluarkan tidak sedikit, dan hampir mencapai angka yang fantastis tergantung dari besaran wilayah pemenangan.
Sayangnya tidak sedikit para caleg yang berhasil mengungkapkan bahwa penggunaan logistik (uang) tersebut bukan untuk mengenalkan visi dan misi, tetapi mereka dengan percaya diri mengungkapkan dana tersebut untuk “membeli” suara.
Logistik menjadi urat nadi utama dalam proses pemenangan, hal ini harus menjadi perhatian jika Anda ingin memenangkan Pemilihan Legislatif 2024 nanti. Tetapi juga harus cerdas dalam mengevaluasi penggunaan logistiknya, jangan sampai ikut-ikutan melakukan “investasi bodong” dalam membeli suara dan berharap menjadi caleg terpilih.
Tim sukses merupakan salah satu komponen yang tidak kalah penting dalam proses pemenangan caleg. Seperti struktur yang utuh, tim sukses merupakan kaki yang akan bergerak menjalankan proses pemenangan hingga mencapai tujuan.
Apa yang terjadi jika tim sukses yang kita miliki “encok & pegal linu”? atau bahkan Tim Sukses Error?
Selain berusaha maksimal mencari suara dan dukungan, pastikan tim sukses “dirawat” dengan baik untuk berbagai kebutuhannya. Evaluasi berkala sangat penting dilakukan untuk memastikan semua titik penargetan dan penempatan relawan bergerak sesuai fungsinya, segera ganti atau tambahkan anggota tim jika memang dibutuhkan.
Solidnya tim sukses merupakan satu langkah yang kritis dalam proses pemenangan. Kerja tim yang taktis dan militan untuk mensosialisasikan Anda ke para pemilik suara akan memperbesar potensi anda untuk menjadi pemenang.
Namun faktanya, para caleg gagal tidak maksimal “merawat” jaringan tim yang dimiliki, bahkan cenderung mengabaikan.
Gunakan Aplikasi SiCaleg akan membantu Anda dalam mengelola database pendukung dan Tim Relawan
Tidak asal dalam merekrut tim sukses adalah salah satu kunci utama. Jangan sampai Anda menciptakan “musuh” didalam kubu Anda sendiri atau parahnya akan ada penyusup yang masuk ke dalam tim sukses Anda. Dari sinilah awal mula bahasa “pengkhianatan” itu dilontarkan ketika caleg gagal untuk meraih kursi.
Partai-partai besar memiliki banyak kader yang potensial yang menempati nomor urut dalam surat suara. Tetapi sebaliknya, partai kecil yang kekurangan kader seringkali melakukan perekrutan asal-asalan, yang penting nomor urut terisi.
Fenomena ini merupakan salah satu realita yang tidak dapat dipungkiri dalam panggung politik. Stok kader yang minim membuat mereka melakukan pendekatan terhadap orang-orang yang bahkan tidak memiliki background yang dibutuhkan dan memberikan janji manis untuk mengajak Anda menjadi Caleg dari partai mereka.
Metode perekrutan seperti inilah yang membuat mesin politik tidak hanya “mogok”, tetapi “mati total”.
Tidak ada harapan untuk Caleg seperti ini dapat bekerja secara maksimal. Walaupun yang bersangkutan memiliki logistik yang kuat, peluangnya masih sangat kecil. Karena biasanya, orang yang memiliki keuangan yang cukup hanya akan menghasilkan Tim Sukses yang “memanfaatkan”.
Jadi salah satu syarat utama adalah, keinginan yang kuat dan strategi yang tepat untuk dapat menjadi caleg potensial dan memenangkan Pemilihan Legislatif.
Itulah beberapa fakta-fakta yang menyebabkan Caleg gagal dalam Pemilihan Legislatif. Semoga pengalaman yang telah dibagikan oleh teman-teman kita yang gagal dapat menjadi pelajaran untuk Anda dapat mengatur strategi yang lebih tepat untuk menghadapi Pemilihan Legislatif 2024.
Gunakan Platform Aplikasi SiCaleg untuk memaksimalkan pencegahan kegagalan dalam Pemilu Legislatif 2024